Saturday, December 31

Inikah Tahun Baru?








             Merayakan tahun baru. Apanya yang baru jika dari dulu perayaan ini selalu diulang-ulang. Tahunnya dong, digit belakangnya bertambah 1 angka. Lalu kenapa tidak disebut saja perayaan tahun kesekian plus satu. Maksudnya tahun baru harapan baru. Berarti dari dulu sampai sekarang ada banyak harapan jika setiap tahun ada harapan baru. Dua ribu sebelas harapan? Tapi menurut saya harapannya ya cuma itu-itu saja kok. Palingan tahun yang akan datang lebih bagus dari tahun yang lalu. Sudah.
             Menurut terawangan kasar saya, ada tiga macam orang yang merayakan tahun baru. Pertama memang niatan, kedua cuma ikut-ikut, dan ketiga kesempatan bawa pacar. Penjual terompet? Penjual terompet adalah salah satu orang yang menantikan tahun baru namun tidak merayakannya.
             Orang yang memang niatan adalah orang yang dari jauh-jauh hari sudah memimpikan perayaan tahun baru. Sudah siapin baju terbaik, benerin motor (dipakein knalpot ekstension super bising), beli terompet dan mercon, pasang tato temporary di sekujur wajah, sampai rela SMS-in orang lain satu-satu untuk ikut acaranya.
             Nah kalau orang sudah super niat bikin acara perayaan tahun baru, entah sekedar hangout atau konvoi, terus ngajak orang lain, pasti ada di antaranya yang cuma ikut-ikutan doang. Gak enak gue sama dia. Ya udahlah daripada nganggur. Ane ikut aja deh.
             Tahun baru adalah kesempatan ngajak pacar keluar (buat yang punya pacar doang). Cuma di tahun baru boleh bawa pacar sampai larut malam, bahkan sampai pagi. Dan bisa dibayangin gak apa yang mereka lakukan dari puncak tahun baru jam 12 malam hingga pagi hari? Mungkin kejebak macet di jalan, mungkin nonton pentas wayang kulit, mungkin ketiduran. Eh? Ketiduran apa ditidurkan?
             Nah itu menurut tipe orang. Kalau menurut tujuan orang merayakan tahun baru, lumayan banyak tujuannya. Dari mulai emang niat cari hiburan, cari jodoh, cuci mata lihat hotpants, nonton konser, konvoi, tawuran, party, mabok-mabokan, sampai pacaran yang negatif.
             Namun ada satu tujuan dengan alasan yang saya suka. Yaitu, kita jadikan tahun baru ini sebagai momentum instropeksi diri dan membuat resolusi. Nah ini betul. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, kenapa mesti di tahun baru. Kenapa gak pas hari raya atau hari ulang tahun saja? Dan kenapa instropeksi diri dan resolusi diiringi dengan perayaan foya-foya? Beda dengan perayaan (yang tidak dirayakan) tahun baru Hijriyah misal. Ada doa akhir tahun dan awal tahun, yang intinya muhasabah. Tujuannya sih sama, hanya saja perayaan yang mengiringi yang berbeda.
             Manusia itu salah kaprah, dan mereka suka itu. Semakin bertambah tahun artinya semakin dekat dengan kiamat, dekat dengan kematian. Tapi kok malah foya-foya. Teringat kata-kata Mbah Kakung saya pas Idul Fitri bertahun-tahun lalu, “Kira-kira bisa menangi (mengalami) lebaran tahun depan gak ya?”. Oke tahun depannya mbah saya masih menangi, tapi gak ada yang tahu kalau lebaran tahun depannya mbah saya sudah almarhum.

Sunday, December 4

Kapitalisasi Tuhan






               Semua orang tahu dan paham bahwa Tuhan itu Maha Besar. Kecuali mereka golongan orang yang tak berpunya, tak mempunyai Tuhan di dalam hatinya (bisa Atheis, bisa juga orang beragama di KTP doang). Nah terlepas dari mereka punya Tuhan atau tidak, menjalankan perintah Tuhannya atau tidak, di sini saya ingin menulis tentang bagaimana cara menulis Tuhan.
               Semua orang yang pernah sekolah dan belajar bahasa Indonesia pasti tahu, bahwa dalam menulis nama sesuatu seperti nama orang, nama tempat, nama bulan, dan yang lainnya, terlebih nama Tuhan, harus ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh Pekalongan, Juni, Dedy, Selasa, Suramadu, dan juga nama-nama untuk menyebut Tuhan. Jadi nama Tuhan, misal Allah, ya harus ditulis Allah pakai kapital, gak boleh nulis gini (maaf) allah. Saya selalu tersinggung setiap membaca nama Tuhan tanpa huruf kapital. Selain itu, dalam bahasa Inggris antara God dan god memiliki arti yang berbeda lho. God (huruf besar) adalah Tuhan, dan god (huruf kecil) berarti dewa. Jadi bisa disamaartikan kalau Tuhan (huruf besar) dan tuhan (huruf kecil) memiliki makna yang berbeda.
               Ah itu kan cuma dari segi bahasa, tulisan tidak penting, yang penting kan niat dalam hati. Nah kurang lebih kata-kata inilah yang terucap dari setiap orang yang pernah saya ingatkan tentang bagaimana cara menulis Tuhan yang benar. Dan pengalaman terburuk saya dalam mengingatkan perihal ini, saya pernah di-unfriend oleh seseorang. Oke jika seseorang mengelak dan beralasan seperti di atas, maka simak analogi di bawah ini!
               Perhatikan namamu di daftar absen atau di manapun yang penting di situ ada namamu! Apakah namamu ditulis dengan huruf besar atau huruf kecil? Setiap kali menulis surat, apakah nama orang yang kamu tujukan kamu tulis dengan huruf besar atau huruf kecil? Setiap kali ujian atau ulangan harian, saat mengisi identitasmu apakah kamu menulis namamu dengan huruf besar atau huruf kecil? Saya yakin semua kegiatan di atas saat menulis nama kamu pasti menulisnya dengan awalan huruf besar.
               Nah untuk urusan remeh-temeh yang sifatnya manusia seperti itu saja kamu sanggup menulis nama dengan huruf besar, lalu mengapa masih juga ada orang yang menulis nama Tuhan dengan huruf kecil. Kebanyakan hal ini ditemui pada jejaring sosial khususnya Facebook. Dan sudah menjadi kebiasaan, Facebook adalah tempat orang-orang mengeluh. Dan karena masyarakat kita beragama, maka dalam mengeluh mereka banyak menyertakan nama Tuhan. Namun sayang, orang yang banyak mengeluh biasanya bukan orang yang bijak, maka banyak dari mereka yang menulis Tuhan seenaknya tanpa huruf kapital. Alasannya buru-buru lah, ribet lah, lupa lah, dan yang paling parah malah ada yang balik tanya: “Emang penting?”. Astaghfirullah. Ya penting lah. Emang seberat apa sih menyisihkan satu jari untuk menekan tombol Shift sebentar saja. Tuhan telah menciptakan kita dengan sempurna, lalu kenapa kita malah menulis nama Tuhan secara tidak sempurna.
               Fenomena lain justru kebalikan. Saya pernah menemukan status seseorang yang berisi tentang kata-kata manis yang ditujukan kepada orang lain, dan parahnya dalam tulisan itu ia menulis –mu dan –ku dengan huruf besar sehingga menjadi –Mu dan –Ku (misal: untukMu, padaKu). Saya juga tersinggung dengan gaya tulisan seperti ini. Karena kata –Mu, –Ku, dan –Nya adalah hak prerogatif untuk kata ganti Tuhan. Kata ganti ini tidak dipakai untuk apapun dan siapapun di dunia kecuali untuk kata ganti Tuhan.
               Kesimpulannya, saya memang kolot, keras kepala, dan sedikit frontal. Bukan itu maksudnya -___- . Jadi kesimpulannya, nama Tuhan tidak boleh ditulis dengan sembarangan. Mungkin maksudnya benar, tapi kalau dilakukan dengan salah tetep aja itu gak baik. Oke jika masih ada yang ngotot hak asasi lah, gak penting lah, suka-suka lah, itu terserah dan kembali ke pribadi masing-masing. Lakum dinukum waliyadin, lo lo gue gue. Dan saya hanya ingat-mengingatkan perihal kebaikan, watawa shaubil haq. Tuhan itu Maha Besar, maka tulislah Ia dengan huruf besar.

Friday, October 28

Jomblo Asmara







        Pasti semua orang kaget dan tak percaya saat saya bilang bahwa saya masih single. Please tahan rasa mual itu. Simaklah ini sebentar saja. Entah faktor apa yang menyebabkan saya single. Faktor sial, ekonomi, politik? Yang jelas bukan faktor tampang. Bukan, bukan karena tampang. Karena sejauh ini ada tiga orang yang mengatakan saya ngganteng. Pertama ibu saya, kedua bapak saya, dan ketiga tetangga-tetangga saya yang sedang menirukan perkataan ibu saya. Dan saya yakin kalian bakal jadi orang yang keempat. Oke bernafas dulu. Silakan bagi yang tadi mual bisa kerokan dulu mungkin, barangkali masuk angin.
        Oleh karena itu saya menjadi salah satu orang yang sangat-sangat tidak percaya ramalan bintang. Kenapa? Setiap baca ramalan bintang di situ ditulis: “Gemini. Asmara: Aduh, ada yang kangen nih. Setan ya mbah yang kangen? | Bakal ada kejutan nih dari si dia. Saya bakal kesetrum ya mbah? | Aduh, tambah deket aja nih. Iya, tambah deket sama tangan sendiri. Dan begitulah yang sejenisnya di mana ramalan itu benar-benar bodoh dan sok tahu.
        Ada satu quote keren: “Jomblo itu nasib. Sedangkan single adalah prinsip”. Nah ini bedanya antara jomblo dan single. Kalau nemu cowok siul-siul dan ngoceh gak jelas ke cewek, bisa dipastikan mereka jomblo, dan mereka alay. Tapi jika ada cowok ngganteng yang bisa gaul sama semua cewek, yang gak mentingin status, nah itu baru cowok single, atau bahkan mungkin dia gay. Tidak. Saya juga khawatir orang-orang menjudge demikian. Tapi prinsip lho ini. Buat apa sih pacaran cuma buat status. Emang kalian yakin pacar kalian sekarang bakal jadi istri atau suami kalian nanti.
        Saya pernah dekat dengan cewek, atau justru ia yang dekat dengan saya. Teman SMA, ya sudah dibilang sahabat gitu lah. Lingkungan berkata dia dan saya sedang pendekatan. Kita sering SMS-an. Tapi kalo telpon justru dia yang telpon, soalnya saya ini pelit jadi gak pernah telpon. Dia nanya kriteria cewek seperti apa yang saya idamkan. Pokoknya saya tahu lah perilaku dia bakal menjurus ke mana. Sebenarnya saya juga sayang sama dia. Tapi yang ada di pikiran saya saat itu, apa sih pentingnya status. Toh saat itu kita berdua sudah deket banget kayak kakak adek. Nah karena hubungan itu sudah kayak hubungan kakak adek, saya justru merasa berdosa jika mengubah status dia sebagai pacar. Rasanya seperti macarin adek atau kakak sendiri. Tapi saya menyesal sekarang. Saya terus kepikiran bagaimana usaha dia dulu untuk mendapatkan saya tidak saya penuhi. Plakkkkk. Oke bernafas dulu. Silahkan kalian boleh melempari saya pake apa saja.
        Tapi anehnya, ini yang lucu, orang-orang di sekitar saya tahu saya single, atau jomblo gitu lah, tapi mereka yang kasmaran bahkan yang sudah pacaran malah curhat dan minta wejangan ke saya. Baik lewat message Facebook, SMS-an, hingga tatap mata dua muka. Saya suka mendengarkan setiap masalah dan saya merasa sangat puas apabila bisa menyelesaikannya. Kepuasannya seperti mendapatkan upil gede dua kali berturut-turut dari lubang yang sama. Lalu kenapa saya tidak jadi psikolog saja ya, batin saya.
        Ya, bisa dibilang saya ini puitis dan romantis. Salah satu teman pun pernah minta saran untuk kado ultah pacarnya sampe kado anniversary hubungannya. Teman kampus saya selalu konsultasi apa yang musti dilakukan tentang gebetan yang hendak dipacarinya. Bahkan temen Facebook yang belum pernah bertemu langsung pun kerap curhat, minta pendapat, sampai diminta menerawang pacarnya itu, semenjak dulu dia berpacaran hingga kini putus. Temen Facebook lain bilang diksi saya bagus. Aduh saya jadi malu.
        Tapi dari semua itu, bukan berarti saya anti pacaran. Pacaran itu gak dilarang. Pacaran itu boleh. Namun hanya saja banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Maka dalam hukum fikih, apapun yang lebih banyak hal buruknya daripada manfaatnya, lebih baik dijauhi saja. Bahkan teman saya ekstrem dalam update status: “Jomblo sampai halal”. Tidak, saya gak se-ekstrem itu kok. Jadi tenang saja bagi para wanita yang hendak mendekati saya. Yuk pacaran sehat.

Sunday, October 2

Gagal lagi! Suksesnya?









          Hayo kemarin siapa yang ikut USM STAN? Saya ikut lho. Lha terus? Ya gak papa, cuma ngadu. Terus gimana hasilnya? Kan kemarin-kemarin ini baru aja pengumuman tuh. Selamat ya buat kalian yang lolos tesnya. Semoga sukses di sana seperti suksesnya Bung Helmy Yahya, jangan sukses seperti suksesnya Gayus Tambunan. Dan sabar ya bagi yang gagal. Toh dari sekian banyak yang tes pasti yang gagal lebih banyak daripada yang lolos.
          Seperti sudah saya bilang, saya ikut. Dan sudah bisa ditebak hasilnya, saya lolos. Ya, lolos alias tidak ikut kesaring babar blas. Saya gagal. Nama saya tidak ada dalam list. Padahal nama saya bagus lho. Entah gimana cara mereka menyeleksinya. Yang jelas bukan dari tampang karena kemarin yang ngawasin bapak-bapak. Lain cerita kalau bapak itu maho dan kebetulan saya jelek. Mungkin juga dari hasil tes saya. Tapi perasaan kemarin sudah saya akalin kok. Dari tiap nomor ada empat option ABCD sudah saya bunderin semuanya kok, dengan harapan pasti dari keempat bunderan itu ada satu option yang betul.
          Ah sudahlah. Toh ini bukan kegagalan saya yang pertama. Tahun lalu, waktu masih fresh graduate dari SMA, saya juga ikut USM STAN. Dan hasilnya? Ya gagal juga lah. Nah yang kemarin lalu itu murni kesalahan saya. Saya terlalu kepedean, karena pas try out saya lolos. Jadi akhirnya pas tes saya out. Jujur waktu tes yang dulu saya banyak becandanya. Wong waktu tes saja saya suka curi-curi pandang ke peserta tes lain, cewek lho ya tentunya. Cantik sih. Dengan perawakan sedang, rambut panjang lurus, dan dengan wajah oriental. Back to the topic, cewek itu duduk di kanan depan saya. Let’s back to the real topic, kemeja yang dia pakai kekecilan jadi kelihatan seksi banget.
          Oke kali ini benar-benar back to the topic. Terhitung dari pengumuman kemarin saya dinyatakan gagal tes dua kali. Sedih gak? Ya ada sedihnya ada dukanya. Sedihnya saya gak bisa kuliah di sana dan menyenangkan orang tua saya. Dan dukanya saya gak bisa menyenangkan orang tua saya karena saya gak bisa kuliah di sana. Tapi ada sedikit terima kasih juga sih. Loh kok? Ya. Dalam doa saya berkomitmen. Tuhan akan mengabulkan doa saya dengan cara-Nya. Dan ternyata beginilah cara Tuhan. Saya percaya akan adanya Butterfly Effect. Saya yakin kejadian ini akan membawa pengaruh yang besar suatu hari nanti, dan semoga itu positif. Apalagi saya mempunyai komitmen. Kalau Tuhan gak memberi saya jalan ke sana, maka Tuhan memberi jalan ke Plan B saya.
          Ada quote untuk menghibur diri saya, yang bunyinya: “Adakah nama tokoh yang tercatat dalam sejarah yang tidak pernah gagal?”. Tapi saya benar-benar tidak butuh dihibur. Sombong? Bukan sombong tapi saya benar-benar tidak merasa sangat kecewa. Karena sudah dibilang saya punya komitmen. Maka berhentilah memperlakukan saya seolah-olah saya sangat kecewa dan sedih. Ini beneran lho. Ada temen kampus saya, awalnya dia gak percaya kalau saya gagal. Mungkin dia pikir saya sepintar Jimmy Neutron. Dan saya benar-benar gagal kawan. Dia langsung berusaha menghibur saya dengan kata-kata dewasa yang tinggi. Bapak saya saja ngomongnya gak gitu. Dia pikir saya kecewa berat.
          Sudahlah. Saya ke Plan B saja. Emang apa sih Plan B saya? Saya kepingin merintis usaha jualan keripik tempe. Ini serius. Ada banyak orang hebat yang meracuni pikiran saya. Dengan motivasi dan inspirasi macem-macem. Dan dengan sedikit inovasi dan intuisi saya telah memutuskan. Enterpreneur itu luar biasa. Saya pasti sukses karena saya sudah gagal dua kali.

Sunday, September 11

Alay, Alamak!!







        Saya yakin semua orang pernah alay. Apa sih alay itu? Kalo kata Wikipedia, “Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan." Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan.”
        Tapi menurut saya alay itu ya melawan arus, dibuat-buat, salah gaul, korban mode, dan pokoknya semua-semua yang kebalikan sama kita sebagai orang normal. Alay telah mencakup ke segala aspek kehidupan. Mulai dari tren, fashion, gaya bicara, gaya tulisan, tingkah laku, dan Facebook.
        Menurut ke-objektifitasan saya, ciri-ciri orang alay adalah orang yang memakai celana jins skinny yang lututnya bolong dipakai melorot sampai kelihatan daleman yang pake boxer, udah gitu pake gasper gede kayak gasper power ranger gitu sampai dibela-belain itu kepala gasper harus nongol meski kaosnya dikeluarin. Kondangan pake itu, hangout pake itu, ke mall pake itu, sampai ujian nasional dan SMNPTN pake itu. Ente sakit? Kita di sini ngeliatnya itu orang mau gaul kok kesiksa banget. Oh iya itu cowok. Nha yang cewek? Saya gak bisa ngeritik cewek kalo soal penampilan.
        Udah ah. Saya gak mau mengkritik orang dari penampilannya. Don’t judge the snack from its package. Bisa jadi orang-orang itu cuma korban. Korban mode. Fashion crime. Tapi saya yakin kita semua pernah ngalamin siklus itu. Khususnya gaya SMS. Jujur saya dulu, sebelum tahu itu alay, sAyA kALo nULis SMS sUkA GiNi. Alasannya? Bukan buat gaul sih. Tapi saya memperhatikan persprektif dan tipografi dari huruf-huruf yang disejajarkan. Halah, sekali alay ya alay. Oke, sekarang saya sudah tobat. Tapi masih banyak yang belum. Temen deket saya juga masih sering gitu. Bahkan lebih parah dengan pake singkatan dan simbol yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Padahal dia cowok lho, tapi kalo SMS suka pake smiley-smiley gitu.
        SMS-an sama orang alay itu bisa diibaratkan seperti ngomong sama orang yang nafasnya bau. Kita jadi risih dan malas sendiri. Tapi kalo orangnya cakep, cantik, dan lumayan, bisalah kita ibaratkan seperti ngomong sama anak kecil yang cadel. Jadi berasa imut gitu. Tapi sama saja keduanya alay. Yang nafasnya bau tidak sadar kalau nafasnya bau. Yang cadel masih belum bisa ngomong bener. Tapi gimana kalau yang SMS alay itu orangnya jelek dan nyebelin. Ya, pura-pura aja ngomong sama orang gagu, terus pura-pura mati.
        Alay itu bukan penyakit. Karena pelakunya gak ada kesadaran untuk sembuh. Alay itu bisa saya definisikan sudah menjadi semacam “agama”. Kalau kita ingatkan, kita sama saja menodai prinsipnya. Mau bukti kalo alay itu sama seperti “agama”, coba aja cek Facebook! Sekalinya nemu nama profil yang “aneh”, cek friends list-nya! Saya jamin, 90 persen nama temen-temennya juga sejenis. Sealiran gitu lah. Satu sektarian. Pengalaman saya pernah komen di status temen yang begitu, selanjutnya beuh, notification komennya isinya nama begituan semua. Nyesel saya pernah komen. Untung Twitter belum banyak yang begituan.
        Saya kok jadi iseng pengen nantangin orang-orang begituan. Berani gak mereka teriak nama profil Facebook-nya di tempat umum. Di tempat umum, bukan di kandangnya. Jadi ngebayangin misal ditanya dosen: “Punya Facebook gak? Apa namanya?” coba mereka bakal ngomong apa. Pantes dosen saya pernah ultimatum mahasiswanya agar kalau mau nge-add dia harus pake nama asli sesuai list absen.
        Tapi itu semua hak asasi sih. Saya menghormati kok. Karena toleransi antar strata pergaulan itu indah. Kita belum tentu yang paling bener. Mari kita jalankan SMS, Facebook, fashion sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Monday, August 29

Selamat Hari Raya Idul Fitri






        Lebaran. Berasal dari kata lebar atau bubar yang berarti selesai, ditambah imbuhan –an yang menunjukkan kegiatan lebar itu sendiri. Jadilah lebaran, yang menandakan selesainya bulan Ramadhan. Biasanya lebaran akan dirayakan habis-habisan hampir di seluruh tempat di Indonesia. Para rantau pulang kandang, para pegawai libur diri, para bajingan alim sehari. Semua orang Islam dari yang beneran Islam, mengaku Islam, ikut-ikutan Islam, sampai yang di KTP-nya Islam semua merayakan hari raya Idul Fitri atau lebaran ini. Yang jadi pertanyaan saya, mengapa perpisahan dari bulan Ramadhan ini dirayakan sedemikian meriah? Tidakkah kita akan merasa rindu dengan bulan Ramadhan?
        Jawabannya tentu bermacam-macam. Tergantung dari strata keimanan masing-masing orang. Ada yang bilang: “Itu artinya kita tidak akan puasa lagi”, atau “Lho yang penting kan dapat THR”, atau “Lebaran saatnya bertemu seluruh anggota keluarga”, hingga ada seorang anak kecil yang polos menjawab: “Cuma lebaran ini kami dapat baju baru” atau sang bapak yang bilang: “Cuma lebaran ini saya dapat membahagiakan anak saya dengan membelikan mereka baju mereka”.
        Lebaran membias jadi beragam makna. Lebaran hari berhentinya puasa, lebaran hari bagi-bagi THR, atau lebaran momen beli baju baru. Yang jelas mau lebaran yang mana pun di Indonesia ya tetap satu yang sama yaitu ketupat opor ayam, atau lontong opor ayam, atau rendang, atau lemang, lho macam-macam begini apanya yang sama. Ya itulah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.
        Kalau mau serius, lebaran itu ya artinya hari yang fitri. Fitri atau fitrah yang artinya suci. Bukan fitri yang cinta-cintaan itu, halah. Setelah puasa sebulan penuh (Insya Allah) Allah membersihkan hati kita sebersih ibarat bayi yang baru lahir. Jadi yang sholat Id, jamaahnya, imamnya, khatibnya itu semua bayi, *plakkk. Jadi kita telah kembali bersih (syarat dan ketentuan berlaku). Tapi jangan seneng dulu. Bersihnya kita itu cuma vertikal sama Allah. Makanya kita perlu membersihkan secara horisontal yaitu dengan cara saling bermaaf-maafan ke sesama, ke orang tua, istri, suami, tetangga, teman, sahabat, pacar, mertua, bos, selingkuhan, dan siapa pun. Dan salinglah bertukar sapa dan berkirim salam. Ucapkanlah selamat hari raya, wong operator seluler aja ngucapin kok.
        Nah setelah Ramadhan ini, kalau kita ikut puasanya sebulan penuh (puasa lho ya, bukan lapar dan haus saja), itu jika ibarat mesin kita telah di-maintenance. Nah bagi yang tidak ikut puasa ya berarti dia tidak ikut di-maintenance. Rugi kan. Tapi Allah Maha Penyayang kok. Kalau kita di-maintenance total, mungkin kalau untuk mereka cuma dikasih pelumas saja. Yang jelas semua dari kita telah siap untuk berjalan sebelas bulan ke depan. Kotor-kotoran lagi, belepotan lagi, dan semoga kita masih dapat berjumpa dengan Ramdhan lagi untuk di-maintenance kembali. Sukur-sukur ketemu lebaran, selain di-maintenance juga bakal dikasih baju baru dan dikasih makan ketupat opor, lontong opor, rendang, dan lemang. Aamiin.

Saturday, August 27

Cukur Rambut






      Perjuangan untuk cukur rambut dimulai sejak 2 hari sebelumnya. Saya ini orangnya setia jadi cukur rambut ya di tempat itu-itu saja. Paling ada satu dua tempat lain lagi sebagai alternatif. Dan sialnya, waktu-waktu mendekati lebaran seperti ini semua tepat cukur rambut penuh. Tentunya malas sekali menunggui orang-orang yang cuma duduk mengantuk di depan cermin sambil membiarkan kepalanya dipegang-pegang orang lain.
      Jujur saya lebih suka cukur rambut di kios-kios pinggir jalan ketimbang di salon atau barber shop. Apa saya pelit? Memang tarifnya lebih murah, ya selisih sedikit lah. Tapi memang saya lebih nyaman cukur rambut di pinggir jalan. Alasannya? Karena saya canggung dengan suasana salon atau barber shop, canggung dengan cermin besar di depan wajah, canggung dengan handuk yang melingkar di bahu, canggung dengan gambar-gambar kepala di dinding, apalagi salon atau barber shop didominasi oleh tuna gender alias bencong. Dan satu lagi, sangat tak nyaman buat saya untuk duduk dan dicukur sementara di kiri kanan saya juga ada orang yang melakukan hal sama. Kalau di pinggir jalan kita benar-benar eksklusif, satu orang satu.
      Kembali ke cerita perjuangan mendapatkan tempat cukur. Satu hari saya keliling tempat-tempat cukur dua kali. Hanya untuk memastikan bahwa tempat cukur sepi dan saya bisa cukur segera. Tapi kenyataannya selalu penuh. Dua hari berturut-turut saya berjuang, di tengah terik matahari sore, di tengah padatnya lalu lintas mudik, semua tempat cukur berjubel. Mungkin memang mendekati lebaran seperti ini tempat cukur selalu penuh. Selain pengaruh adat Jawa juga alasan kerapihan menyambut hari yang suci.
      Karena dua kali sehari selama dua hari tak mendapatkan hasil, maka saya putuskan hari ini saya akan berjuang agak siangan. Siapa tahu karena panas gini orang-orang jadi malas cukur rambut. Saya langsung menyambangi kios cukur rambut kebiasaan saya, bangunan semi-permanen dari papan yang berdiri di atas irigasi.
      Di dalam kios ada satu orang yang sedang dieksekusi dan dua orang cewek. Hah? Cewek? Baru kali ini saya menemukan cewek menggunakan jasa cukur rambut pinggir jalan. Gak gengsi apa? Apa mungkin karena salon-salon juga penuh? Tapi kan di sini gak bisa rebonding? Dua cewek seumuran SMP. Yang satu biasa saja (belakangan diketahui sebagai calon korban), nah yang satu lagi luar biasa (belakangan diketahui sebagai teman korban). Luar biasa gimana? Cantik. Seksi. Meski masih usia SMP aura cantiknya kelihatan. Kalau dilihat-lihat muka manisnya mirip Marsha Aruan. Dan, buset, yang satu ini pakaiannya minim sekali (baca: tank top, hot pants). Saya sempat lupa kalau lagi puasa. Astaga.



Marsha Aruan


      Ah biasa aja deh? Lebay deh? Oke kalau semisal saya menemukan yang begini di mall atau cafe bisa dibilang biasa saja. Lha ini di tempat cukur rambut mau pamer sama siapa. Sama abangnya? Oke kita kembali. Untuk menyibukkan diri saya mengutak-atik handphone saya. Meski cuma buka Facebook, skip, Twitter, skip, Kaskus, skip, cek SMS, tapi setidaknya saya kelihatan sibuk dan cool. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa menghalangi mata saya untuk melirik sedikit saja jengkal-jengkal keseksiannya. Halah. Semoga pahala puasa saya tidak dikurangi. Eh, eh, eh. Tiba-tiba datang segerombolan anak tanggung dengan mengendarai berbagai sepeda. Gayanya khas alay banget menjurus ke punk karena kompakan pake kaos hitam. Apalagi obrolannya, beuh, siapa lagi gak ngobrolin cewek itu.
      Setelah menunggu penuh perjuangan melawan hawa nafsu dan zina mata, yang mana ternyata hasilnya seri, akhirnya tiba giliran saya untuk dieksekusi. Saya duduk di kursi kayu, tidak ada kursi empuk. Di depan saya ada meja kecil penuh dengan alat eksekusi, di atasnya ada cermin kecil sehingga hanya cukup untuk memuat wajah ganteng saya. Abang tukang cukur dengan mesra memasangkan celemek menyelimuti tubuh saya. Dan dengan keyword “Bros tipis bang!”, eksekusi dijalankan. Padahal saya biasa di sini tapi kenapa saya harus selalu ngomongin keyword.
      Pejuangan saya belum berakhir. Karena gerombolan tadi menggangu sekali. Mulai dari jokes garingnya hingga tingkah polahnya. Sebagian dari mereka terus mondar-mandir hingga ke depan dan memandangi wajah ganteng saya. Buset ini anak naksir saya kali ya.
      Finishing. Dengan lembut abang tukang cukur memoles sekitaran kepala dengan cairan mirip sabun dan dengan cekatan dia mengikis kulit saya mirip tukang kelapa muda. Selesai, dibedakin, disapu pake busa, dan tada: Wajah Ganteng Saya.




http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html