Thursday, March 22

Basa-basi







             Indonesia termasuk salah satu negara yang kental akan basa-basinya. Bahkan dalam protap kenegaraan pun banyak sekali basa-basi. Contohnya saja pada upacara bendera hari Senin. Saya sering berdiri di barisan paling depan saat upacara. Bukan karena paling rajin, tapi karena saya dianggap pendek jadi ditempatkan di depan. Oke abaikan itu.

             Kembali ke tadi, menurut saya upacara itu banyak basa-basinya. Tahu gak apa nama petugas upacara yang kerjanya ngomong terus kayak pembawa acara memasak. Ya, protokol upacara, ini dia pelaku utamanya. Karena orang ini gak bisa to the point. “Dimohon kepada pembina upacara agar menaiki podium karena upacara bendera segera dimulai”, begitu katanya. Ada yang salah? Tidak. Hanya saja menurut saya kalimat-kalimat itu gak efektif. Kan bisa seperti ini: “Sekarang, pembina upacara bisa naik podium!”. Karena gak perlu memohon agar pembina upacara naik ke podium, semua orang sudah tahu kalau itu upacara bendera, dan semua orang sadar kalau upacaranya mau dimulai. Tapi tidak sopan memang, makanya hal ini tidak pernah dipakai.

             Basa-basi juga dipakai di sistem ekonomi negara kita. Di pasar ada satu los dengan tulisan: “JUAL MANGGA MANIS”. Semua orang tahu dia berjualan di situ, semua orang bisa melihat dia berjualan mangga, dan semua orang tahu kalau rasa mangga itu manis (kebanyakan sih), jadi menurut saya tulisan itu gak efektif. Lalu ada Ibu muda menghampiri, dan berikut percakapannya.

              “Jual mangga Pak?” << Ya iyalah, gak liat apa tumpukan mangga segede gunung.
              “Iya neng, mau beli? << Klise. Tapi lebih baik dari pada: “Mau ape lo?”.
              “Manis gak Pak?” << Pait mah jamu.
              “Ya manis lah neng, kalo pait mah jamu.” << Nah kan, sudah saya duga.
              “Berapa Pak sekilo?” << Normal lah.
              “Lapan rebu neng,” << Sambil senyum manis biar gak ditawar.
              “Yah mahal amat Pak,” << Mulai ngasih kode buat nawar.
              “Ya udah neng, Lima rebu aja,” << Sadar diri.
              “Jadi kalo 4 kilo dua puluh ya Pak?” << Langsung borong, mumpung murah.
              “Kok tahu?” << Ha? Apaan?
              “Pak, saya mau beli mangga, bukan mau ngegombal,” << No-ko-men-deh.

             Kesimpulannya, setelah melalui basa-basi sedemikian rupa, harga mangga didapatkan sebesar lima ribu rupiah sekilo. Basa-basi di pasar gak cuma urusan jual-beli mangga, dan basa-basi beginian gak cuma ada di pasar.

             Basa-basi memang sudah mengakar pada budaya kita. Hampir semua unggah-ungguh dan tata krama disisipi basa-basi. Contohnya saat kita mau makan. Sudah siap piring di tangan dengan lauk ala kadarnya, biasanya sih ayam atau rendang. Pas ada orang lain yang gak makan, kita akan basa-basi dengan menawarkan makanan lalu minta izin makan, entah cuma pura-pura atau memang rela. Dan selalunya lawan bicara akan mempersilahkan tanpa sedikit pun mengharap makanan tadi (kecuali orang itu celamitan). Tapi hal ini tidak berlaku dan tidak umum dilakukan di warung makan Padang, warteg, dan restoran franchise. “Makan Pak? Mari.”, lalu, “Goblok, ini rumah makan, ya pastilah saya mau makan”.

             Jujur saya tidak suka basa-basi demikian, khususnya insiden rumah makan tadi. Kenapa? Karena hal ini cuma formalitas. Tidak ada esensi apa-apa setelah itu. Apa iya orang yang kita basa-basi-ni tadi akan mengenang momen saat kita mem-basa-basi-ni dia. Paling-paling cuma predikat sopan-santun yang kita dapat. Dan semoga saja sopan-santun itu tidak sekedar basa-basi. Lalu apakah saya orang yang asal jeplak dan terlalu to the point? Tidak juga. Untuk beberapa kasus saya tidak menyebutnya sebagai basa-basi, saya menyebutnya sebagai introduksi.

Monday, February 13

Valentine, Sayang







           Brakkkkk. Anne membanting kencang tasnya ke atas meja. Dengan wajah bersungut-sungut, memandangi bergantian kedua wajah yang tampak marah serupa dengannya. Bersitegang. Bersamaan dengan deru mobil dan klakson yang berkali-kali dari luar rumah, Anne menyambar tasnya dan berlalu keluar meninggalkan orang tuanya – yang tampak menyebalkan malam itu, tanpa salam, tanpa senyum.
           Di dalam mobil Anne diam. Sejenak ia lupa akan sosok pria di balik kemudi, Ezra. Dan baru sejurus kemudian ia menumpahkan kekesalannya dengan mengomel tiada hentinya.
            “Seperti tak pernah muda saja. Ini gak boleh itu gak boleh. Katanya semua demi kebaikanku. Kebaikanku? Bullshit. Aku yang paling tahu tentang apa yang baik bagiku. Mentang-mentang orang tua mereka bisa mengaturku seperti anak kecil. Hei! Umurku sembilan belas tahun. Aku bukan anak bayimu lagi, ah!” cerocos Anne.
            “Ada apa sih, ketemu aku bukannya seneng malah marah-marah?” tanya Ezra.
            “Calon mertuamu. Hampir saja aku tak boleh keluar malam ini,” jawab Anne.
            “Calon mertua? Kapan kita bilang kita akan menikah. Hahahaha,” timpal Ezra.
           Sejenak hening. Anne masih terdiam.
            “Ayolah sayang. Kan yang penting sekarang kamu sudah bersama aku. Kita bisa bersenang-senang. Lupakan orang tuamu sebentar saja demi kita malam ini!” bujuk Ezra.
           Senyum mulai mengembang di bibir manis Anne. Ia genggam tangan Ezra yang sedari tadi bertumpu di atas pahanya. Kini Anne tak lagi hanya memandang kosong ke depan. Ia telah sadar akan keadaan kota malam ini. Malam yang begitu ramai, lebih ramai dari malam Minggu.
           Terang saja, hari ini adalah bulan Februari hari ke-empat belas. Ya, 14 Februari. Hari raya Valentine, hari yang katanya adalah hari kasih sayang. Mudah sekali menemukan sepasang kekasih di malam ini. Di jalan-jalan, hilir mudik kendaraan dengan manusia yang berpasang-pasang. Di pinggir-pinggir jalan, manusia bergandengan berjalan berpasang-pasang. Sampai di sudut-sudut taman, tempat hiburan, café, hingga warung biasa pun tampak gerombolan manusia berpasang-pasang. Cinta ditumpahkan semalam ini.
           Di meja bundar, satu dari sekian banyak meja di ruangan itu, Anne dan Ezra duduk berhadapan. Lilin-lilin merah muda di tengah meja menyala menambahkan cahaya lampu di ruangan yang temaram. Iringan jazz dan bossa nova yang sayup-sayup namun terdengar merdu menemani candle light dinner di hari Valentine. Anne dan Ezra, satu dari sekian banyak pasangan di ruangan itu berlomba-lomba memadu kasih, menjadi yang paling romantis.
            “Oh ya, aku punya kado untukmu,” seru Anne mengawali obrolan.
            “Tutup matamu!” imbuhnya kemudian.
           Anne mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menaruh benda itu ke dalam genggaman Ezra. Kotak kecil hitam berpita merah, yang masih tampak rapi meski Anne sempat membantingnya bersama tasnya tadi.
            “Apa ini?” spontan Ezra bertanya.
            “Buka saja!” balas Anne dengan sesimpul senyum dan berharap Ezra akan suka dengan hadiahnya.
            “Wah jam tangan. Terima kasih sayang. Bagus banget!” tampak Ezra begitu senang dengan kadonya, dan Anne jauh lebih senang.
            “Aku senang kamu suka,” aku Anne.
            “Aku juga punya kado untukmu, gantian kamu tutup mata!” sergah Ezra.
           Beringsut Ezra bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Anne. Didekatinya wajah Anne, dan sebuah ciuman mendarat di pipi Anne. Anne pelan-pelan membuka matanya dan Ezra telah kembali duduk di depannya. Tampak wajah Anne merah karena rona malu, senang, dan sedikit kecewa. Kecewa karena kado yang Ezra maksud hanya sebuah kecupan, tak sebanding dengan jam tangan mahal itu.
            “E, apa?” tanya Anne kebingungan karena Ezra terus saja menatapnya sambil tersenyum seolah menyimpan kejutan lain. Benar saja, dari kantong Ezra mengeluarkan sesuatu. Dua batang coklat. Ah, kado yang lazim pada hari Valentine, batin Anne.
            “Coklat? Buat aku?” kata Anne dengan ekpresi senang yang sebenarnya ia paksakan.
            “Iya,” jawab Ezra.
            “Tapi kenapa dua?” tanya Anne.
            “Tadinya hanya satu. Tapi kupikir satu coklat tak akan mampu mengalahkan manismu. Tapi ternyata dua batang coklat pun masih tak mampu menandingi manisnya wajahmu,” gombal Ezra.
            “Ah kamu mah gombal,” timpal Anne.
           Sudah lama Ezra dan Anne duduk di tempat itu. Tak terhitung berapa kata-kata manis yang terucap dari mulut Ezra, dan tak terhitung pula berapa kali Anne tersenyum karenanya. Meski ini adalah malam Valentine pertama bagi mereka, namun ini bukan yang pertama bagi Ezra, begitu juga dengan Anne. Setidaknya setiap tahun kebanyakan pasangan melewati malam Valentine dengan pasangan yang berbeda.
           Malam beranjak larut. Satu per satu meja telah ditinggalkan pemiliknya. Ada satu pasangan di meja paling ujung, yang tampaknya masih menikmati suasana redup dengan bercumbu. Biasanya setelah makan malam, muda-mudi akan duduk-duduk di alun-alun dan pusat-pusat kota. Duduk dan berkumpul seperti kala menikmati malam pergantian tahun, hanya saja malam Valentine tak ada kembang api.
            “Mau ke mana kita, sayang?” tanya Ezra dari balik kemudi.
            “Terserah. Yang penting aku belum mau pulang,” jawab Anne.
            “Ya sudah, kita keliling-keliling dulu,” balas Ezra.
           Meski sekarang telah lebih dari tengah malam, namun jalanan masih tampak ramai. Mobil-mobil masih tampak terparkir di tepi jalan, apalagi sepeda motor. Terparkir di luar café-café, restoran, hiburan malam, hingga tempat karaoke sekelas rakyat yang memasang wanita kampungan berpakaian seksi di lobi-lobinya.
           Tiba-tiba mobil berhenti. Anne melongok keluar memandangi bangunan besar yang tepat berada di samping mobil berhenti. Anne membaca papan besar nama bangunan itu, dan kemudian dengan cepat melemparkan pandangan tak percaya ke arah Ezra.
            “Karena aku cinta kamu sayang,” kata Ezra manis.
            “Tapi aku belum siap,” balas Anne lirih.
            “Tapi sayang, ini Valentine. Ini Valentine!” seru Ezra.




*****

Saturday, January 28

Pa-ca-ran






               Eh eh udah pada tau kan kalo saya ini single? Hah? Gak percaya? Baca di sini! Terus? Terus saya mau kasih tau sesuatu. Bahwa saya masih tetap on the track, saya masih di jalur saya, bukan jomblo tapi single. Hah? Gak percaya? Ulangi baca dari atas deh! Ya, saya single. Kalo di postingan sebelumnya saya mengatakan bahwa single itu prinsip, di sini saya mengakui bahwa itu adalah nasib. Ya, nasib saya karena memiliki prinsip seperti itu.
               Kehidupan asmara saya biasa saja, tapi bukan berarti saya begitu menyedihkan. Tidak, tidak sama sekali. Yang menyedihkan adalah macam-macam pikiran orang-orang terhadap saya. Ada yang bilang saya payah, saya kuper, saya freak, bahkan yang paling kejam adalah orang menyebut saya homo. WHAT THE EARTH, kalian kejam. Bahkan tante seksi depan rumah bertanya ke Ibu saya, apa saya doyan perempuan apa enggak. Meh, pertanyaan macam apa itu?



Ilustrasi tante seksi.


               Jadi, kenapa saya tidak pacaran saja? Nah pertanyaan seperti inilah yang sulit dijelaskan secara gamblang. Kalo saya jawabnya: “Males ah”, pasti akan ada banyak spekulasi di masyarakat. Sebagian men-judge saya sok, sebagian lagi mengira saya homo. Maka dari itu, untuk menjawab pertanyaan tadi, diperlukan sebuah jawaban diplomatis sesuai dengan prinsip saya.
               Pertama saya akan balik bertanya: “Apa sih pacaran itu?”. Hayo apa pacaran itu? Apakah pacaran itu artinya cowok cewek jajan bareng, cowok nyilet nama cewek di tangannya, cewek nulis nama cowok di toilet, cowok cewek boleh pegangan tangan, cowok cewek boleh ciuman, cewek boleh nyuruh-nyuruh cowok, cowok boleh mainin cewek, jadi sebenarnya apa pacaran itu? Pacaran adalah penjajakan menuju jenjang pernikahan. Nah ini benar. Tapi apa ini alasan muda-mudi kita pacaran? Tidak. Lagipula apa orang-orang itu yakin pacar mereka sekarang adalah yang akan jadi suami atau istri mereka nanti?
               Definisi saya, diambil dari pandangan umum, bahwa pacaran adalah suatu keterikatan hubungan yang secara tidak langsung memaksa satu pihak untuk menyerahkan sebagian haknya kepada pihak satunya dan juga usaha untuk melegalisasi perbuatan-perbuatan yang sebelumnya tidak diperbolehkan. Huh panjang bener, harus masuk ensiklopedi nih. Tapi setuju gak dengan pendapat saya? Atau malah justru pusing?
               Ya, pacaran sama saja menyerahkan sebagian hak kepada pacar. Khusus cowok nih, yang tadinya kamu berhak ngobrol sama siapa saja, eh pas pacaran kamu gak boleh deket-deket sama si ini si anu si ita si itu. Yang tadinya kamu boleh bangun dan tidur kapan saja, eh pas pacaran kamu harus bangun pagi-pagi buat nyapa doi atau nganterin doi sekolah, ke pasar, ke empang buat berak, ke kali buat nyuci, juga harus tidur paling akhir buat ngelayanin SMS doi, karena cewek gak terima alasan kita pas kita ketiduran dan gak bales SMS doi. Dan kalo sialnya pacar kita posesif dan egois banget, doi bakal merampas semua hak kasih sayang kita, kita gak boleh sayang ke lain makhluk kecuali doi.
               Dan lagi, pacaran seolah membolehkan perbuatan-perbuatan yang sebelumnya gak boleh dilakuin. Pertama pegang tangan. Coba sebelum pacaran kamu pegang tangan doi, kalo gak lagi lebaran pasti kamu bakal dikira kurang ajar. Tapi kalo pegang tangan pas pacaran, beuh romantis katanya. Kedua ciuman. Coba sebelum pacaran kamu cium doi, kalo doi gak kamu guna-guna pasti tinju doi nempel ke muka. Tapi kalo ciuman pas pacaran, beuh tanda sayang katanya. Ketiga seks. Ini yang sangat ironis dan naudzubillah amoral. Atas nama cinta dan sayang, dua makhluk non-marital sok-sokan jadi suami istri, ke hutan aja gih!
               Semoga gak tersinggung ya sama pernyataan saya di atas. Dan jika tersinggung, mohon instropeksinya ya. Tapi betul gak kalo pacaran di kamus generasi muda kita seperti itu? Gak, gak semua seperti itu. Kan sudah saya bilang di awal, saya bilang begitu karena mengambil dari sudut pandang umum. Tentu saja semuanya tidak bisa digeneralisasi. Masih banyak kok pacaran yang sehat. Ya, saya mengakui pacaran sehat, tapi saya gak yakin jumlahnya masih ada banyak. Dan yang terakhir inilah track saya, pacaran sehat. Tapi sulit mencari pasangan yang sehat jaman sekarang. Oh ya, barusan saya pulang dari midodareni temen SD. Temen saya ngegodain saya: “Kapan nyusul?”. Nha teman satunya bilang: “Ah dari wajah-wajahnya sih masih jauh, kayak gak mikir-mikir gituan”. Entah ya perasaannya antara tersinggung dan bangga. Tersinggung kalau yang dia maksud saya gak doyan cewek, dan bangga kalau yang dia singgung adalah prinsip saya.
               Kesimpulannya, tujuan pacaran bukan mencari kesenangan seperti apa yang muda-mudi kita sekarang lakukan. Pacaran adalah masa penjajakan untuk ke jenjang pernikahan. Lalu bagaimana kalau pacar yang kita jajaki tidak cocok untuk dijadiin pasangan? Itu artinya Anda belum mengenal pacar Anda lebih dalam sebelum memutuskan pacaran. Jadi sebelum pacaran putuskanlah apakah ia layak jadi pasangan atau tidak. Jadi orientasinya gini, sebelum memutuskan seseorang jadi pacar, kamu juga harus dapat melihat ke depan apakah ia juga layak jadi istri/suami. Kalau gak yakin, ngapain pacaran? Jadinya kembali lagi ke pertanyaan tadi, apa kalian yakin pacar kalian sekarang yang akan jadi istri atau suami kalian nanti?

Monday, January 23

Kucing







               Kucing. Artian luasnya adalah binatang keluarga mamalia yang memiliki ciri-ciri berdarah panas, berkaki empat, berbulu rambut, memiliki ekor, bergigi taring, dan berkuku tajam, apakah ituuuu? Ya kucing. Orang sono nyebut macan, harimau, singa, dengan sebutan kucing. Bahkan ikan lele pun disebut ikan kucing. Kalo orang kita mah nyebut macan ya macan, lele ya lele, kucing ya kucing, kecuali ada tumbuhan obat namanya kumis kucing.
               Biar pun namanya kucing, tapi jarang ada kucing yang noleh jika dipanggil kucing. Sudah jadi kesepakatan masyarakat Indonesia memanggil kucing dengan sebutan pus. Orang luar pun nyebut kucing dengan pus atau pussy. Entah dari mana kakek nenek leluhur kita nyebut kucing dengan pus sama kayak orang Amerika. Apa kakek nenek leluhur kita dari Amerika, atau kebetulan mereka jago bahasa Inggris? #abaikan
               Saya juga punya kucing, cowok. Semua keluarga saya (kecuali Ibu saya) suka kucing. Dan pura-puranya ia diangkat menjadi bagian keluarga saya. Namanya? Entah kenapa sampai sekarang saya bingung siapa namanya. Dulu adik saya pernah ngasih nama Sonic (mungkin dia pikir Sonic itu kucing, padahal dia landak). Tapi nama Sonic gak dibolehin Bapak saya gara-gara Bapak saya punya nama mirip. Akhirnya sampai sekarang ia hanya dipanggil Pus/Pupus, Cing/Cicing, tapi saya biasa manggil dia Le (diambil dari kata Tole, sebutan untuk anak laki-laki Jawa). Entah siapa yang gila, Si Pupus-cicing-tole ini bisa diajak ngobrol meski jawabannya cuma ah-ih-uh-ngeong-ngeong saja.





               Kucing saya ini kalo saya bilang kurang cowok sebagai kucing jantan. Ia cantik, putih, bersih. Orang-orang yang liat pasti ngira ia dimandiin. Kucing saya anti air. Anti air bukan gak papa kalo kena air, tapi bisa ngamuk kalo kena. Seperti saya bilang, kucing saya ini cantik. Makanya saya sempat shock saat liat dia ditunggangin kucing jantan kampung sebelah. Eh kucing saya malah diem aja. Mungkin kucing itu ngira kucing saya cewek. Saya sempat termenung, dan bertanya dalam hati apa kucing saya homo? Tapi setelah itu kucing kampung itu gak nongol lagi. Hahahaha kena tipu dia. Syukurlah, artinya dia bukan pasangan homo kucing saya. Tak apalah ini pengalaman buat kucing saya.

Wednesday, January 4

Circumcision







             Circumsicion. Sunat. Atau bahasa universalnya khitan. Apa sih khitan itu? Jangan berlaga bego dengan pertanyaan itu. Semua orang juga tahu apa khitan itu. Yaitu salah satu yang diwajibkan dalam agama yang juga sangat direkomendasikan oleh dunia kesehatan medis. Jadi, apakah khitan itu? Menurut pengalaman saya, khitan adalah tindakan operasi kecil untuk membuang kelebihan daging di ujung titit, orang Jawa menyebutnya kulup. Makanya jangan heran kalau anak kecil cowok di Jawa dipanggil dengan Lup. Sama seperti kalau di Jakarta dipanggil Tong, pasti tahu dong dari kata apa.
             Oke, kembali ke niat saya semula menulis ini. Terinspirasi dari Bapak saya yang punya hajat mengkhitankan anak ketiganya (yang juga adik kedua saya). Sebenarnya kejadiannya sih udah lama pas tanggal 15-17 Desember kemarin. Tapi berhubung ada urgensi postingan ini, akhirnya baru sempat nulis sekarang deh.
             Ada yang unik jika kamu sunat (lagi) di kota saya. Salah satu dokter sunatnya juga merangkap sebagai Walikota Kota Pekalongan. Jadi bisa dibangga-banggain dong, kan tititnya pernah dipegang-pegang walikota. Dulu saya juga sunat di situ, tapi sayang doi belum jadi walikota.





             Nah, karena mantri sunat seorang walikota pasti sibuk dong mengurusi (bukan meng-kurus-i) rakyat. Niatnya adik saya bakal disunat tanggal 14, tapi tiba-tiba pihak klinik membatalkan sepihak dengan alasan Pak Dokter dinas keluar kota. Akhirnya disepakati eksekusi dilakukan esok paginya tanggal 15. Dan gobloknya adik saya, hari itu dia remidi di sekolahnya. Dimundurin lagi deh jadi tanggal 15 sore.
             Tanggal 15 Desember pukul 17.00 WIB rombongan berangkat ke klinik Pak Dokter. Saya berperan sebagai camera person mengajak kawan saya sebagai photografer, kita jadi semacam pasangan awak studio. Skip. Langsung ke prosesi khitan. Pertama, adik saya naik bed untuk disuntik bius, dilakukan oleh perawat pria. Selesai, keluar, menunggu. Skip. Antrian tiba, adik saya dibawa masuk ke ruang yang berbeda lagi. Naik ke bed dan ditangani oleh dua perawat pria dan wanita. Yang mereka lakukan adalah menelanjangi adik saya, menyiapkan alat operasi, dan tentunya berkutat dengan titit adik saya. Selesai tapi belum disunat, menunggu lagi.
             Nah yang ditunggu-tunggu datang. Pak Walikota, eh Pak Dokter datang. Menghunuskan senjata pada tangannya, yaitu berupa pisau kecil elektrik entah apa namanya. Tangan kanan pegang pisau, tangan kiri menarik ujung kulup. Iris-iris-iris, ngik-ngek-ngik-ngek, dan terpotonglah ujung titit itu. Enak banget ini dokter, kerjaannya cuma masuk, potong, keluar. Saya gak tahu daging kulup itu mau dibawa ke mana, mungkinkah diawetkan?
             Setelah itu prosesi jahit yang dilakukan oleh kedua perawat tadi. Kemudian setelah beberapa saat, tada, selesai. Meh, jelek banget titit adik saya. Tapi enaknya sunat jaman sekarang itu gak diperban, dan udah bisa langsung pakai sempak. Tapi gak sembarang sempak ding. Sempak khusus yang dimodifikasi, bagian depannya ada ruang biar titit gak nempel. Bagian depan itu kalau diamati persis seperti masker yang biasa dipakai pak polisi lalu lintas. Jangan dibandingin muka pak polisi sama titit lho ya. Ntar ditangkap lho kamu.
             Pulang. Kegiatan hari itu selesai, kecuali beberapa tradisi yang dilakukan saat rombongan khitan sampai di rumah. Yaitu rebutan uang koin yang dilempar Mbah Putri saya, lalu pembagian ketan buat orang-orang yang ada di situ. Besoknya tanggal 16 gak ada kegiatan sama sekali. Kecuali belanja-belanja buat kebutuhan ntar pas walimah dan resepsi.
             Skip ke tanggal 17 pagi. Pagi buta sudah harus bangun. Orang dapur ngurusin makanan katering, orang set tenda-sound system ngurusin mikropon, listrik, sama ngatur kursi. Dan saya, menonton orang dapur masak dan orang-orang ngatur kursi. Habis itu mandi, dandan yang rapi (tapi gak pakai makeup), dan siapin camcorder.
             Gak ada yang rame pada walimah. Yang di-shoot cuma orang-orang datang, duduk, ngamplopi yang dikhitan, dan pulang. Tapi ada ceramahnya juga lho. Dan harus direkam. Buset ini benar-benar home-made. Gak pakai tripod, tangan musti pegang camcorder dan di-shoot ke Pak Ustadnya. Ya ampun bisa varises nih lengan. Oke saya terlalu lebay sebagai seorang cowok.
             Skip ke acara resepsi siang harinya. Ini baru lumayan sibuk. Ada pertunjukannya juga. Apalagi kalau bukan organ tunggal, hiburan rakyat, plus dengan biduan bertopengnya. Bukan biduannya yang pakai topeng, tapi makeup-nya itu lho yang naudzubillah. Bedanya hiburan kali ini bukan dangdut, khusus untuk tembang-tembang kenangan. Dan saya harus repot ke sana kemari nge-shoot orang-orang datang, tamu yang dianggap penting, orang makan, orang ngobrol, sampai ke muka biduan-biduan bertopeng itu.
             Resepsi selesai, skip ke acara selanjutnya yaitu sulap dan badut untuk teman-teman adik saya. Sulap dan badut? Anak SD sekarang udah kenal internet, KASKUS, Point Blank, dan bokep, masih saja disuguhi sulap dan badut. Tapi mereka tetap antusias kok. Apalagi selain badut juga ada action figure Shaun the Sheep yang menurut saya kepalanya lebih mirip ikan mas koki.





             Fyuh selesai juga acara seharian ini. Oya, sebelum pada bubar sempet-sempetin dulu foto keluarga. Tugas akhirnya yaitu berkemas-kemas. Orang dapur mengemasi perkakas masak dan alat makan. Orang tenda bongkar tenda. Dan adik saya, menikmati amplopnya. Bapak ibu saya, sama saja, menghitung amplopnya berharap balik modal. Dan saya, menikmati makanan sisa pesta dan mengais tempat amplop berharap ada yang utuh dan tertinggal di sana.



*abaikan orang yang paling kanan




Saturday, December 31

Inikah Tahun Baru?








             Merayakan tahun baru. Apanya yang baru jika dari dulu perayaan ini selalu diulang-ulang. Tahunnya dong, digit belakangnya bertambah 1 angka. Lalu kenapa tidak disebut saja perayaan tahun kesekian plus satu. Maksudnya tahun baru harapan baru. Berarti dari dulu sampai sekarang ada banyak harapan jika setiap tahun ada harapan baru. Dua ribu sebelas harapan? Tapi menurut saya harapannya ya cuma itu-itu saja kok. Palingan tahun yang akan datang lebih bagus dari tahun yang lalu. Sudah.
             Menurut terawangan kasar saya, ada tiga macam orang yang merayakan tahun baru. Pertama memang niatan, kedua cuma ikut-ikut, dan ketiga kesempatan bawa pacar. Penjual terompet? Penjual terompet adalah salah satu orang yang menantikan tahun baru namun tidak merayakannya.
             Orang yang memang niatan adalah orang yang dari jauh-jauh hari sudah memimpikan perayaan tahun baru. Sudah siapin baju terbaik, benerin motor (dipakein knalpot ekstension super bising), beli terompet dan mercon, pasang tato temporary di sekujur wajah, sampai rela SMS-in orang lain satu-satu untuk ikut acaranya.
             Nah kalau orang sudah super niat bikin acara perayaan tahun baru, entah sekedar hangout atau konvoi, terus ngajak orang lain, pasti ada di antaranya yang cuma ikut-ikutan doang. Gak enak gue sama dia. Ya udahlah daripada nganggur. Ane ikut aja deh.
             Tahun baru adalah kesempatan ngajak pacar keluar (buat yang punya pacar doang). Cuma di tahun baru boleh bawa pacar sampai larut malam, bahkan sampai pagi. Dan bisa dibayangin gak apa yang mereka lakukan dari puncak tahun baru jam 12 malam hingga pagi hari? Mungkin kejebak macet di jalan, mungkin nonton pentas wayang kulit, mungkin ketiduran. Eh? Ketiduran apa ditidurkan?
             Nah itu menurut tipe orang. Kalau menurut tujuan orang merayakan tahun baru, lumayan banyak tujuannya. Dari mulai emang niat cari hiburan, cari jodoh, cuci mata lihat hotpants, nonton konser, konvoi, tawuran, party, mabok-mabokan, sampai pacaran yang negatif.
             Namun ada satu tujuan dengan alasan yang saya suka. Yaitu, kita jadikan tahun baru ini sebagai momentum instropeksi diri dan membuat resolusi. Nah ini betul. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, kenapa mesti di tahun baru. Kenapa gak pas hari raya atau hari ulang tahun saja? Dan kenapa instropeksi diri dan resolusi diiringi dengan perayaan foya-foya? Beda dengan perayaan (yang tidak dirayakan) tahun baru Hijriyah misal. Ada doa akhir tahun dan awal tahun, yang intinya muhasabah. Tujuannya sih sama, hanya saja perayaan yang mengiringi yang berbeda.
             Manusia itu salah kaprah, dan mereka suka itu. Semakin bertambah tahun artinya semakin dekat dengan kiamat, dekat dengan kematian. Tapi kok malah foya-foya. Teringat kata-kata Mbah Kakung saya pas Idul Fitri bertahun-tahun lalu, “Kira-kira bisa menangi (mengalami) lebaran tahun depan gak ya?”. Oke tahun depannya mbah saya masih menangi, tapi gak ada yang tahu kalau lebaran tahun depannya mbah saya sudah almarhum.

Sunday, December 4

Kapitalisasi Tuhan






               Semua orang tahu dan paham bahwa Tuhan itu Maha Besar. Kecuali mereka golongan orang yang tak berpunya, tak mempunyai Tuhan di dalam hatinya (bisa Atheis, bisa juga orang beragama di KTP doang). Nah terlepas dari mereka punya Tuhan atau tidak, menjalankan perintah Tuhannya atau tidak, di sini saya ingin menulis tentang bagaimana cara menulis Tuhan.
               Semua orang yang pernah sekolah dan belajar bahasa Indonesia pasti tahu, bahwa dalam menulis nama sesuatu seperti nama orang, nama tempat, nama bulan, dan yang lainnya, terlebih nama Tuhan, harus ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh Pekalongan, Juni, Dedy, Selasa, Suramadu, dan juga nama-nama untuk menyebut Tuhan. Jadi nama Tuhan, misal Allah, ya harus ditulis Allah pakai kapital, gak boleh nulis gini (maaf) allah. Saya selalu tersinggung setiap membaca nama Tuhan tanpa huruf kapital. Selain itu, dalam bahasa Inggris antara God dan god memiliki arti yang berbeda lho. God (huruf besar) adalah Tuhan, dan god (huruf kecil) berarti dewa. Jadi bisa disamaartikan kalau Tuhan (huruf besar) dan tuhan (huruf kecil) memiliki makna yang berbeda.
               Ah itu kan cuma dari segi bahasa, tulisan tidak penting, yang penting kan niat dalam hati. Nah kurang lebih kata-kata inilah yang terucap dari setiap orang yang pernah saya ingatkan tentang bagaimana cara menulis Tuhan yang benar. Dan pengalaman terburuk saya dalam mengingatkan perihal ini, saya pernah di-unfriend oleh seseorang. Oke jika seseorang mengelak dan beralasan seperti di atas, maka simak analogi di bawah ini!
               Perhatikan namamu di daftar absen atau di manapun yang penting di situ ada namamu! Apakah namamu ditulis dengan huruf besar atau huruf kecil? Setiap kali menulis surat, apakah nama orang yang kamu tujukan kamu tulis dengan huruf besar atau huruf kecil? Setiap kali ujian atau ulangan harian, saat mengisi identitasmu apakah kamu menulis namamu dengan huruf besar atau huruf kecil? Saya yakin semua kegiatan di atas saat menulis nama kamu pasti menulisnya dengan awalan huruf besar.
               Nah untuk urusan remeh-temeh yang sifatnya manusia seperti itu saja kamu sanggup menulis nama dengan huruf besar, lalu mengapa masih juga ada orang yang menulis nama Tuhan dengan huruf kecil. Kebanyakan hal ini ditemui pada jejaring sosial khususnya Facebook. Dan sudah menjadi kebiasaan, Facebook adalah tempat orang-orang mengeluh. Dan karena masyarakat kita beragama, maka dalam mengeluh mereka banyak menyertakan nama Tuhan. Namun sayang, orang yang banyak mengeluh biasanya bukan orang yang bijak, maka banyak dari mereka yang menulis Tuhan seenaknya tanpa huruf kapital. Alasannya buru-buru lah, ribet lah, lupa lah, dan yang paling parah malah ada yang balik tanya: “Emang penting?”. Astaghfirullah. Ya penting lah. Emang seberat apa sih menyisihkan satu jari untuk menekan tombol Shift sebentar saja. Tuhan telah menciptakan kita dengan sempurna, lalu kenapa kita malah menulis nama Tuhan secara tidak sempurna.
               Fenomena lain justru kebalikan. Saya pernah menemukan status seseorang yang berisi tentang kata-kata manis yang ditujukan kepada orang lain, dan parahnya dalam tulisan itu ia menulis –mu dan –ku dengan huruf besar sehingga menjadi –Mu dan –Ku (misal: untukMu, padaKu). Saya juga tersinggung dengan gaya tulisan seperti ini. Karena kata –Mu, –Ku, dan –Nya adalah hak prerogatif untuk kata ganti Tuhan. Kata ganti ini tidak dipakai untuk apapun dan siapapun di dunia kecuali untuk kata ganti Tuhan.
               Kesimpulannya, saya memang kolot, keras kepala, dan sedikit frontal. Bukan itu maksudnya -___- . Jadi kesimpulannya, nama Tuhan tidak boleh ditulis dengan sembarangan. Mungkin maksudnya benar, tapi kalau dilakukan dengan salah tetep aja itu gak baik. Oke jika masih ada yang ngotot hak asasi lah, gak penting lah, suka-suka lah, itu terserah dan kembali ke pribadi masing-masing. Lakum dinukum waliyadin, lo lo gue gue. Dan saya hanya ingat-mengingatkan perihal kebaikan, watawa shaubil haq. Tuhan itu Maha Besar, maka tulislah Ia dengan huruf besar.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html