Sunday, June 29
Sunday, November 24
Send Message - via Kantor Pos
Coba sebutin gedung-gedung tua di kotamu! Museum. Stasiun kereta api. Kantor pos. Nah kantor pos. Bangunan yang kebanyakan peninggalan Belanda ini salah satu bangunan yang di tiap kota mesti ada. Kalau yang gak tau kantor pos itu lho gedung yang catnya semua oranye itu. Dan di sinilah segala aktivitas surat-menyurat terjadi.
Baru-baru ini saya melakukan sesuatu yang kebanyakan orang zaman sekarang jarang lakuin. Yaitu: mengirim surat via pos. Hehehe bangga dikit dong. Tapi gak semudah itu berkirim di zaman sekarang. Bukan, bukan karena dipersulit. Tapi karena zaman sekarang semakin sedikit yang tau gimana cara mengirim surat via pos. Karena tidak semudah menekan enter dan send. Untung kita kenal internet, tinggal googling deh: cara mengirim surat. Nah itu, kemajuan teknologi internet yang sekaligus menampakkan kebodohannya.
Tapi dari semua tutorial dari internet tetep bae gak mudeng. Iya sih di situ dijelasin ini ditulis ini, itu di situ, perangko di sini. Tapi tetep gak mudeng ketika di situ dijelasin bagian depan dan bagian belakang surat, ini gimana bedainnya. Yang depan yang mana yang belakang yang mana. Wong buka kran aja sering keliru ke kanan atau ke kiri dulu. Akhirnya saya ke kantor pos dengan membawa surat yang masih telanjang. Maksudnya amplopnya bersih belum ditulisin apa-apa. Skip. Masuk loket, tanya-tanya deh sama petugasnya. Berikut kurang lebih percakapan menegangkan itu.
“Mbak mau kirim surat gimana caranya? Ini alamat penerima nulisnya sebelah mana? Terus alamat pengirim di mana?
”Oh alamat penerimanya ditulis di bagian depan amplop sebelah kanan bawah.”
“Hehehehe betewe bagian depan surat itu yang mana ya?”
Akhirnya setelah ditunjuk-tunjuk saya jadi paham. Corat-coret-corat-coret. Selesai.
“Nih mbak.”
Setelah itu suratnya diterima mbaknya dengan tangan kanan. Terus mau ditimbang. Tapi?
“Nha gak pake perangko mbak?”
“Lho masnya mau pake perangko?”
“Lho? Emang biasanya gimana?”
“Ada kilat khusus, ekspress, sama biasa yang pakai perangko. Kalau kilat khusus itu dua puluh ribu paling satu hari nyampe. Tapi kalau pakai perangko, dua ribu lima ratus, tapi nyampenya gak bisa dipastiin.”
“Oooooh. Yang biasa aja ah. Gak buru-buru kok.”
Apaan ini? Lho masnya mau pake perangko. Mau pake perangko. MAU. Seolah-olah perangko adalah hal yang haram dan menjijikkan sampai mbaknya kaget waktu dimintain perangko. Hehehehe. Apa iya sekarang perangko udah jarang digunain.
Jadi intinya yang saya tangkep di kantor pos tempat saya mengirim surat gini. Secara default tiap orang kirim surat dikenain layanan non-perangko. Entah karena mereka memberikan layanan yang tercepat buat pelanggan, atau mereka gak mau pasang perangko karena harganya paling murah. Juga mereka nakut-nakutin orang yang pake perangko, bilangnya: surat gak bisa dipastiin kapan nyampe.
Udah lupakan kejadian itu. Mumpung lagi bahas surat kenapa gak sekalian aja share gimana cara mengirim surat via pos. Simak gambar-gambar ini aja ya.
Oh iya. Perlu tau bahwa sejak tahun 2012 PT Pos Indonesia bekerjasama dengan minimarket waralaba Indomaret. Jadi Indomaret bisa ada di dalem kantor pos gitu. Nah gak tau deh gimana cara si Alfamart jejerin. Tapi bedanya kalo udah di dalam kantor pos namanya jadi PostShop. Kirain PostShop itu jual benda-benda pos seperti kartu pos, amplop, perangko, materai, bis surat. Eh gak taunya kayak Indomaret biasanya, jadi gak ada kartu pos.
Sudah ya kawan segitu saja. Semoga surat saya sampai di tempat dengan selamat. Sehingga semua senang. Nah sebagai hadiah nih saya kasih trivia tentang kantor pos.
Dahulu saat berkirim surat, penerima suratlah yang harus membayar biaya pos. Karena penerima surat seringkali menolak surat dengan alasan tidak mau membayar, maka muncullah perangko.
Perangko yang resmi pertama kali diperkenalkan di Britania Raya pada 1 Mei 1840.
Perangko berasal dari bahasa Latin: franco.
Dan ternyata perangko ditulis dengan prangko bukan perangko seperti kata Richard Yani Susilo pada Bulletin Berita Filateli tahun 1985.
Kantor pos pertama didirikan di Batavia (Jakarta) pada 26 Agustus 1746 oleh Gubernur Jenderal G. W. Baron van Imhoff.
Di Indonesia kantor pos berwarna oranye karena Kolonial Belanda mengecatnya demikian sebagai identitas Belanda sesuai warna kebangasaannya.
Sunday, October 27
Ini hujan!
Sungguh kau berlari pada malam selarut ini. Bukan hujan yang mengejarmu. Bukan pula waktu. Namun kepada sesuatu yang kau yakin separuh ruhmu tertuju. Hingga kau berpeluh-peluh pada hujan yang teduh. Tapi kau mengelak dan berkata: Ini hujan!
Pelarianmu berakhir tak tentu. Apa yang kau sangka sesuatu rupanya hanya pintu. Yang rapat tertutup yang tampak tanpa celah untuk mengetuk. Alangkah iba untuk wajah yang tertunduk duka. Kau menangis setelah sekian lama. Tapi kau mengelak dan berkata: Ini hujan!
Enggan bangkit kau bersimpuh di situ sedari tadi. Mengutuki yang terjadi dan berharap pintu terbuka sendiri. Sementara sorak-sorak keadaan terkekeh tanpa jarak. Ramai-ramai mereka teriak bodoh kepadamu. Sekali lagi kau mengelak dan berkata: Itu hujan!
Oktober 27, 2013
Sunday, September 29
#20 Hai Tuhan
Hai halo Tuhan. Lama aku tak menyapa-Mu di sini, di samping Kau selalu ada di mana-mana. Kau Maha Cantik, maka di setiap ciptaan-Mu selalu kulihat kecantikan. Namun jangan sampai aku memujinya melebihi memuji-Mu.
Di antara kecantikan yang Kau taruh pada dunia, di sana ada wanita. Makhluk mulia inilah yang kerap membuat lelaki lupa kepada-Mu. Namun Kau tak cemburu, atau aku yang tak tahu. Yang jelas Kau ciptakan banyak wanita untuk tiap-tiap pria. Namun tidak kepadaku, atau aku yang tak tahu. Hahaha atau dari banyak wanita itu, wanitaku kelak tidak seperti wanita kebanyakan.
Astaga aku lupa, Tuhan. Hidup ini tidak cuma wanita. Mereka terlalu mulia hanya untuk menjadi pelengkap pria. Merekalah wakil-Mu di dunia, kecantikan dan kasih sayang ada padanya. Hehehe aku jatuh cinta.
Wednesday, August 7
#19 Tepi-tepi
Hai halo Tuhan.
Lengahkah kami hingga Ramadhan sebentar lagi pergi? Sudah dapat apa kami sebulanan ini? Hingga bulan mulia itu mulai bangkit, beranjak, dan berlalu barang sekejap saja.
Orang bilang di ujung Ramadhan ada hari kemenangan. Kemenangan untuk siapa? Berjihadkah kau sebulanan ini? Astaga. Kami terlelap, kami lalai, kami abai, kami malu.
Ramadhan berakhir, itu benar. Namun ini bukan ujung, ini tepi-tepi. Tepi di mana kami akan mulai kembali menjalani rutinitas tanpa kerangka bulan baik. Tepi di mana muslim semusim kembali rupa. Sungguh kenapa kami bangga tampil tak beragama.
Tuhan. Kau Maha Baik. Kau mungkin geram melihat kami yang berdoa agar Ramadhan depan kembali jumpa, namun kami isi sela-selanya dengan dosa. Dan di tepi-tepi ini kami mengharap Kau tidak memasukkan kami kepada golongan itu. Terima kasih Tuhan untuk madrasatu Ramadhan, tempat pembelajaran paling baik.
Friday, August 2
#18 Hai Tuhan
Tuesday, July 30
#17 Sepuluh Kedua
Hai halo Tuhan. Ramadhan hari ini telah masuk hitungan hari kedua puluh, atau kedua puluh satu. Entahlah, aku tidak menghitungnya. Yang jelas anggap saja ini sepuluh hari terakhir Ramadhan. Lalu apa saja yang sudah kita dapat?
Dai sepuluh hari terakhir ini akan datang tamu besar, begitu katanya. Orangl-orang menyebutnya dengan lailatul qadr, yang akan tiba di salah satu malamnya. Malam yang mana? Entahlah tak ada orang tahu. Ini jackpot, begitu Tuhan? Jackpot bagi yang giat ibadah tiap malam tiap hari. Tapi kami sungguh perhitungan. Menganggap bahwa malam itu datang di malam ganjil saja, maka kami giat di malam itu saja. Hehehe.
Sepuluh hari terakhir ibarat hukum alam. Hanya yang tekun saja yang istiqomah akan ibadahnya. Tengok saja, masjid kian longgar. Pasar lebih ramai. Aku pun, Tuhan, sudah sering meninggalkan taraweh berjamaah gegara urusan duniawi. Bacaan Quran pun tidak sengebut dulu. Irhamna Ya Allah. Di sepuluh hari kedua yang Kau limpahkan maghfiroh di dalamnya, sudilah Engkau ampuni kami yang mulai lalai. Tegur kami bila perlu, dengan cara-Mu.









