Wednesday, July 10

#2 Hai Tuhan

Hai halo Tuhan. Aku hanya sekedar menyapa. Tak mungkin aku menanyakan kabar-Mu atau bertanya Kau sedang sibuk apa. Karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa yang tak pernah merasa sibuk mengatur dunia seisinya.

Hari ini hari pertama kami berpuasa di Ramadhan tahun ini. Hari ini pula kami pertama berbuka atas rahmat-Mu. Semoga Engkau menerima puasa kami. Bukan karena kami sudah menahan lapar, atau haus, atau juga karena kami telah menahan nafsu. Tapi karena kami ikhlas, tentu Engkau lebih tahu.

Ada yang lucu Tuhan. Selepas buka tadi, kami ramai-ramai mengucap syukur secara terang-terangan, di Facebook. Mungkin ini juga keistimewaan Ramadhan, begitukah, Tuhan?

Hari ini aku ingin tidur awal Tuhan. Tenang saja aku sudah menyelesaikan bacaan Quran-ku. Baiklah. Jaga aku, bimbing aku Tuhan. Sehingga besok aku masih bisa menjumpai-Mu lewat tulisan kecil ini.

Tuesday, July 9

#1 Hai Tuhan





Hai halo Tuhan. Hari ini awal Ramadhan, begitu kata ulil amri di televisi. Namun ada juga saudaraku yang mengawali Ramadhan sejak kemarin. Sehingga sebagian dari kami berkata-kata: mengapa kita berbeda? Ada pula sebagian dari kami dengan egonya meremehkan sebagian yang lain. Aku tahu, pasti Engkau sedang menguji seberapa dewasakah kami.
Tuhan, hari ini aku membaca kitab suci-Mu lho, al-Quran. Mungkin jika ia dapat berbicara ia akan menyindirku: karena Ramadhan lalu aku menyentuhnya. Tapi aku kira tidak, ia mungkin rindu ketika aku mengucap basmallah di atasnya, lalu mengeja huruf demi huruf, terkadang juga telunjukku ikut menuntun.
Hari ini aku ke masjid seperti biasanya. Namun ada yang berbeda, Tuhan. Masjid jadi tampak sempit karena jamaah yang banyak. Namanya juga Ramadhan, mungkin begitu gumamku.
Oh ya, mulai hari ini sepertinya aku akan sering menulis surat untuk-Mu, Tuhan. Atau hanya sekedar menunjukkan puisi-puisi tentang-Mu. Dan tentu saja doa-doa yang tersirat juga, tentu Engkau lebih tahu. Dan semoga hujan yang tengah turun malam ini turut membawa berkah dari-Mu.

Sunday, February 17

Employee



        Employee. Istilah kerennya kalau gak mau dibilang karyawan. Bahkan kata karyawan pun masih lumayan daripada dibilang pekerja. Begitu? Tapi apapun istilahnya saya hanya membedakan pekerjaan menjadi dua: bekerja untuk orang lain (staff employee), dan bekerja untuk diri sendiri (self employee).

        Singkat cerita, entah ada kesepakatan apa antara bapak-bapak to bapak-bapak, dan yang jelas memang ada sesuatu. Saya diminta bapak saya untuk pergi ke perusahaan seorang bapak, menemui bapak yang lain lagi, karena saya dipromosikan untuk bekerja suatu pekerjaan.

        Saya bingung. Lha saya ini kan masih kuliah, masak diminta kerja. Setelah negoisasi, eh negosiasi, disepakati saya bekerja suka-suka saya. | Eh gak boleh gitu dong?! | Saya bekerja di perusahaan itu jika tidak ada kuliah. Jadi secara normal saya kerja seminggu tiga kali, yang setengah hari satu kali. Lucu. Tapi jadi gak lucu karena saya jadi gak punya hari libur.

        Oh iya, FYI, perusahaan yang saya maksud itu industri tekstil yang buat sarung. Nah saya kebagian tugas memoles corak-corak sarung. Di situ disebut desainer. Keren kan? Sebenarnya tugasnya sih enteng, gitu-gitu doang. Tapi justru yang gitu-gitu doang itu yang bikin saya sering nganggur. Saya jadi seonggok manusia yang kerjaannya klik kanan refresh-klik kanan refresh, atau kalau gak ya main game. Nah sisi positifnya karena waktu luang itu saya jadi sering berlatih dan sekarang saya mahir bermain Minesweeper. Serius.

        Lama-lama saya muak dengan rutinitas ini. Bayangkan, kerja kok enak banget. Berangkat sesukanya. Sakarepku. Lucu. Jadi gak lucu sebab saya khawatir ada kecemburuan sosial di sini, mengingat saya paham betul tekanan kerja di sana bagi staff yang beneran. Ditambah saya juga punya kegiatan lain di kampus selain kuliah, mahasiswa teladan gitu loh. Sakarep, batinmu.

        Dilema berkecamuk di dalam dada. Di titik ini saya sudah jenuh. Dan lagi saya semakin sulit membagi waktu. Ditambah racun-racun para guru di twitter dengan pemikiran ini itu, saya gak boleh jadi karyawan. Saya adalah pengusaha yang terjebak di dalam tubuh karyawan. Saya harus bekerja untuk diri saya sendiri.

        Saya resign. Waduh ini nih the hardest part. Sulit banget mengungkapkan kepahitan ini ke pihak perusahaan. Saya ini orangnya gak enakan. Tapi didorong motivasi ala MLM di dalam diri saya, saya mengungkapkan perasaan saya. Skip. Singkat cerita saya resign beneran. Hiks hiks. | Kamu nangis? | Gak, aku pilek. |



        Hari terakhir. Pegang komputer kantor untuk terakhir. Seruput teh manis kantor untuk terakhir. Cuci mata mbak kantin cantik untuk terakhir. Salto sambil bilang WOW di meja bos untuk terakhir. Oke yang terakhir lebay dan keliatan fiktif banget. Yang jelas hari itu pamitan. Dikasih wejangan ini itu. Pidato perpisahan yang saya siapkan terpaksa gak saya ucapkan, karena gak penting banget. Dan terakhir temen kantor ngasih ini.

Oh sweeeeeet. Sayang dia cowok. Tapi saya percaya banget apa kata permen itu. Sukses!

Saturday, August 18

Lebaran









Di ujung suatu bulan, suka cita sangat kentara
Bersimpuh tiada peluh, bahagia di dalam dada
Terlukis senyum, alis dan mata yang bercahaya
Berjalan menjemput takbir, berdiri menyambut pahala






       Siapa yang masih ingat penggalan lagu di atas? Hayo diinget-inget! Bohong banget kalau bilang masih ingat. Itu lagu bukan milik siapa-siapa, malahan itu bukan lagu, itu murni karangan saya. Hahaha. Kalau disimak secara sekilas memang tak ada, tapi secara tersurat pasti semua orang paham kalau tulisan itu menggambarkan suka cita menyambut, menjalani, dan mengalami hari raya. Hari raya apa? Hari raya 17 Agustus. Ya hari raya lebaran lah. Tapi memang kebetulan dua hari besar ini terjadi berdekatan tanggal, dan hal ini memberi keistimewaan, jadi mari kita merayakan keduanya.
       Maka bisa dikatakan bulan ini ada dua kemenangan, pertama kemenangan Republik Indonesia hingga merdeka, dan kedua kemenangan umat Islam dari segala gemblengan selama puasa. Dan momen ini istimewa karena 67 tahun lalu Republik Indonesia juga memproklamirkan kemerdekaan tepat di bulan ini, Ramadhan dan Agustus. Jadi dulu para founding fathers kita puasa saat bilang merdeka, dan kita pun puasa saat memperingatinya. Tapi kebanyakan kita lupa semangat merdeka dengan alasan puasa. Pilih mau jadi warga negara, atau warganya Allah? Tapi memang lebih bagus dan harus ya jadi warga negaranya Allah. Hehehe.
       Oke cukup ngomong manisnya, sekarang saya ingin menyentil sedikit. Karena kita sudah sampai di finish, sekarang mari kita flashback sebentar. Iya atau tidak, kalau saya bilang bahwa maksiat hanya dilarang saat bulan Ramadhan? Jadi dapat dikatakan setelah lepas dari Ramadhan maksiat diperbolehkan. Begitu? Dalam hal ini bukan konteks tentang MUI, tapi tentang sikap kita semua. Lihat saja, tempat hiburan malam cuma ditutup kalau pas puasa. Setelah puasa, bebas. Ini orang-orangnya pada munafik apa. Pas puasa ikut puasa, tapi di bulan lain mabok ikut mabok. Ya nggak tau juga ding kalau pas puasa orang-orang itu tetep mabok, bukan ke diskotek tapi ke bawah jembatan pakai terpentin dicampur manisan.
       Fenomena lain? Cewek-cewek mendadak sopan dan pakai jilbab, tapi kembali telanjang kalau puasa habis. Tengok itu televisi! Presenter-presenternya sopan bener pakai baju muslim, ada yang pakai kerudung, kalau buka acara pakai salam. Tapi tengok bentar lagi, pasti balik dah pakai yang mini-mini yang keteknya keliatan, yang udah tau pakai rok mini eh duduknya nyilang. Atau pakai kaos kayak vakum bungkus buah, ketat banget. Eh tapi itu kaos emang buat bungkus ‘buah’ ding. #Plakkk

       Jadi kalau begini keadaannya, sama artinya bulan puasa dianggap bulan yang penuh kekangan, banyak aturan, dan membatasi. Lho bukannya itu memang tujuan puasa? Mengekang, setan-setan dipasung artinya hawa nafsu harus kita ikat kuat. Banyak aturan, ya iya dong, gak boleh makan, minum, bersetubuh, dari sunrise sampai sunset. Membatasi, gak cuma puasa, yang namanya syariat itu dibuat untuk membatasi, dan di mana-mana suatu batas dibuat pasti tujuannya baik. Ada batas kecepatan, batas jalan, batas jembatan, batas kesabaran, wong rumah aja kita batasi kok. Harusnya puasa justru kita anggap sebagai kuliah, setelah sebulan kita menjalani praktekkan dong di sebelas bulan lain.
       Kesimpulannya? Mengambil momentum kemerdekaan Indonesia, ingat bahwa merdeka adalah terbebas atas suatu kondisi, bukan bebas sebebas-bebasnya. Jadi setelah lewat Ramadhan itu bukan berarti kita bebas melakukan hal-hal sesuka kita, dosa dikit gak papa lah, dengan harapan bisa ketemu Ramadhan tahun depan. You wish, siapa yang jamin kita bakal ketemu Ramadhan lagi. Justru harusnya bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia ini kita harus memerdekakan diri juga. Merdeka dari setan-setan, merdeka dari pengaruh buruk. Merdeka! Setuju?



Saturday, July 14

Hari Lahir









Telah tercatat di kitab kejadian, segala sesuatu
Apapun tentangmu, tentang lahirmu
Tak ada yang membedakan kecuali di mana, bagaimana, dan masa
Bagaimana Ibumu memberitahukanmu perihal itu semua
Lalu kauingat-ingat betul, kaucatat, sebagai sesuatu yang istimewa

Demi bumi yang berotasi
Demi bulan yang mengitari
Demi matahari yang berevolusi
Tertanda Tuhan yang mengatur segala sesuatu beserta isi
Yang mengantarkan perputaran waktu hari demi hari

Hingga tiba pada suatu hari yang telah kautandai
Hari yang kaubilang hari istimewa, menurutmu
Tanggal tertentu yang katanya hari kelahiranmu, bertahun-tahun silam
Lalu teman-temanmu, entah apakah kau yang telah memberi tahu
Datang silih berganti dalam harimu, mengucap beribu selamat dan salam

Sempat kau terlena dalam euforia, hanya sesaat, lalu sesuatu membisikimu
Bahwa ibarat kayu bakar, mungkin apimu sedang membesar kali ini
Dan besok pun bisa semakin besar, dan dapat lebih besar
Namun kodratnya yang akan semakin rapuh dan menjadi arang atau abu
Bahkan seperti tak punya kendali, apimu dapat padam sewaktu-waktu

Sekarang semoga kau lebih tahu
Semakin jauh usiamu, semakin dekat dengan tempat kembalimu
Bersyukurlah hal itu belum menjemputmu, syukurilah betul
Dan kau telah diberi kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak lagi
Ingat-ingat itu di setiap hari, hingga kau mengulanginya lagi

Sunday, April 15

Diuji di Bulan April







       Bulan ini bulan galau. Bukan bulan musim PHK cinta, tapi di bulan ini segala ujian akan menghampiri. Ujian dalam arti sesungguhnya. Mulai besok Senin, 16 April, jenjang pendidikan setingkat SMA sudah mulai duluan, seminggu kemudian SMP, nah baru SD, tapi gak berlaku buat TK, PAUD, apalagi TPA.
       Ujian Nasional disingkat UN, tapi ada yang nyebut UAN singkatan dari Ujian Akhir Nasional. Malah ada juga yang nyingkat UNAS. Dari dulu memang nama untuk ujian ini gak konsisten. Pernah pake EBTANAS, kalo gak salah singkatan dari Evaluasi Belajar Tahap Nasional, pernah juga EBTA doang, Evaluasi Belajar Tingkat (atau Tahap) Akhir. Sekarang jadi UN untuk Ujian Nasional, ada juga yang mengartikan Ujian Negara. Terus UAN untuk singkatan Ujian Akhir Nasional. Dan yang paling diharapkan adalah UANG, yaitu Ujian Akhir Nasional Gratis.
       Tapi apapun sebutannya, yang namanya ujian ya sama saja. Hal yang menakutkan bagi yang takut, dan hal yang menyeramkan bagi yang seram (?). Tapi kalo sudah menjalani, kalian bisa cerita sekarang kalo ujian itu sebenarnya gampang* (* > kondisional). Jadi bisa saya ibaratkan UN itu seperti sunat. Awalnya takut, serem, ngeri, tapi pas dilakukan gak terasa apa-apa, justru seneng pada akhirnya. Tapi ya tidak semua UN segampang ini, sama seperti tidak semua sunat itu tidak menyakitkan. Itu semua tergantung dari kondisi dan situasi.
       Oke karena saya pernah menjalani UN dan kebetulan saya pernah sunat, maka saya bisa cerita. Saya akan cerita tentang detik-detik Ujuan Nasional di masa saya silam. Apa yang saya ceritakan adalah murni dari pandangan pribadi saya, dan apa yang saya alami adalah murni dari lingkungan belajar saya. Bisa saja hal ini dikaitkan dengan sekolah saya, namun tampaknya tidak etis jika hal ini dilakukan.
       Sekolah yang baik pasti akan membekali muridnya dengan pengayaan materi sebelum UN. Biasanya dilakukan program jam tambahan dan jam ke-nol. Jadi murid harus berangkat satu jam pelajaran lebih pagi, dan pulang lebih siang. Tapi kalo boleh saya katakan, sebenernya jam tambahan ini gak melulu diisi dengan materi UN. Tapi sebagian juga diisi oleh guyon, motivasi, dan wejangan. Tapi itu tergantung gurunya ding. Poin pertama, hampir semua guru bilang, khususnya wali kelas, yaitu agar mbok ya yang merasa pintar membantu yang kesulitan. Ini kode, yaitu kita direstui untuk melakukan kerja tim dalam ujian walaupun protokol dan caranya tidak disebutkan.
       Poin kedua, pihak sekolah menegaskan bahwa pengawas ujian tidak diperkenankan berjalan-jalan saat ujian berlangsung, kecuali ada keperluan lain seperti mengedarkan soal dan daftar hadir. Jika pengawas melanggar, maka murid boleh melaporkannya kepada pihak sekolah saat itu juga. Tidak hanya itu, pengawas yang dinilai terlalu ketat dan bertindak menyeramkan juga boleh diadukan. Ini kode, bahwa pihak sekolah melindungi kenyamanan kita.
       Poin ketiga, saat ujian saya gak nyangka bisa seperti ini. Pengawasnya baik-baik, gak jalan-jalan, gak lirak-lirik, gak batuk-batuk, malah ada yang guyon. Mungkin Dinas Pendidikan telah melakukan briefing kepada semua panitia ujian agar melonggarkan pengawasan pada saat ujian. Gak ada yang salah, ini manusiawi.
       Poin keempat, walaupun sangat tidak diperkenankan membawa ponsel tapi sebagian teman saya berhasil membawa benda ini masuk. Sama sekali gak ada upaya preventif, wong HP dikantongin aja bisa masuk. Dan apa hasilnya, kurang lebih setengah jam setelah masuk kunci jawaban telah terdistribusi ke semua peserta ujian, gak semua ding. Saya rasa pengawas tahu namun mereka diam, mengenai hal ini mungkin bisa kembali ke poin tiga.
       Poin kelima, mengenai sumber kunci jawaban. Beruntunglah kamu jika punya temen bintang kelas namun sedikit bandel, atau berani demi persahabatan. Beruntunglah kamu jika punya temen dengan pertemanan yang luas mencakup sekolah-sekolah lain. Dan beruntunglah kamu jika punya temen yang dekat dengan tentor-tentor bimbel. Loh emang bisa? Kan gak boleh bawa HP? Hal ini bisa saja jika poin ketiga dan keempat terpenuhi. Dulu, isu yang rame soal ini adalah bahwa sinyal provider ini provider itu akan diacak, makanya harus pake provider yang ini atau provider yang itu. Hahahaha ini cuma isu.
       Poin keenam, jika poin ketiga terpenuhi maka kamu bisa tengak-tengok. Jangan asal nengok, pastikan paket soal sama. Bahkan dulu saya gak cuma tengak-tengok, sahabat yang duduk di seberang kanan saya menuliskan jawaban gede-gede pada lembar belakang soal dan diarahkan ke saya. Ah gak nyangka ujian segampang ini. Jujur saya lebih suka melakukan hal ini. Saya gak bawa HP, saya gak bawa contekan. Saya lebih percaya spontanitas saya dalam tengak-tengok.
       Wah wah wah. Kenapa? Curang ya? Hahahaha. Saya akui ini memang curang. Tapi saya ingin bertanya, siapa yang telah kami curangi? Wong semua melakukan ini kok. Saya hanya kasian sama peserta ujian yang jujur. Pengalaman, teman saya yang jujur nilainya lebih rendah dibanding nilai kami yang curang rame-rame. Mungkin orang seperti ini yang kami curangi. Tapi maaf, logika pertemanan bilang, jika kamu bisa namun tidak membantu yang tidak bisa, maka kamu telah curang dengan hanya mementingkan dirimu sendiri. Maaf.
       Jujur, saya tiga kali try out kota tidak pernah lulus. Saya gak sendiri, sebagian besar tidak lulus. Sekolah ketar-ketir. Dan gak hanya sekolah saya, sekolah lain juga. Makanya dibuatlah kesepakatan, jadi ujian waktu itu digampang-gampangin. Dan hasilnya cukup memuaskan. Walau nilai ujian saya bagus, saya katakan bahwa hal ini tidak mungkin dicapai jika saya tidak punya teman-teman yang hebat, pengawas-pengawas yang baik, dan sekolah yang berani.

Saturday, March 31

BBM cuma April Mop..!!







       Hampir semua headline dan tagline berita baik di koran maupun televisi akhir Maret ini sama, yaitu tentang BBM. Bukan Blekberi Mesenjer lho ya, tapi Bahan Bakar Minyak. Emang ada apa sih? Hanya orang gaptek yang masih tanya beginian. Ceritanya Pemerintah berniat mau menaikkan harga BBM, dan lumrahnya masyarakat menolak. Lha iya, siapa sih yang mau bayar mahal. Dan sudah menjadi kebiasaan, saat Pemerintah mulai aneh-aneh pasti rakyat protes.

       Ya kalo protesnya sopan, semisal minta ijin interupsi gitu lanjut kritik dan saran. Tapi gak bakal ada kalo yang protes sebanyak jamaah haji. Itu unjuk rasa namanya, atau bahasa kerennya demo. Demo bukan kependekan dari demokrasi, tapi demonstrasi. Tapi para pelakunya lebih suka disebut aksi. Jadi saat kita lihat mereka demo, sebenarnya mereka sedang beraksi. Dan harusnya namanya bukan unjuk rasa, tapi unjuk gigi.

       Demi demo, kemarin di kampus saya ada satu posko untuk menggalang massa. Kita disuruh tulis nama dan nomor hape, terus disuruh tanda tangan di kain putih raksasa. Dan dengan gaya khas pelaku MLM, mereka membujuk kita untuk ikut aksi. Saya gak ikutan. Saya cuma mampir sebentar lalu menjauh.

       Saya memang tidak suka ikut campur masalah beginian. Selain saya kuper, saya juga tidak suka cara demikian. Mengapa? Saya gak mau dibilang sok tahu. Saya gak suka dibilang banyak minta tanpa ngasih solusi. Dan saya takut dibilang biang rusuh. Karena apa yang saya tonton di teve kemarin ya seperti itu. *saya sok tahu banget ya*

       Mohon maaf kepada para pelaku aksi. Saya yakin kalian pasti akan langsung membenci saya setelah membaca tulisan di atas. Jangan salah, teman saya juga melakukan hal demikian, tapi demo yang sehat tentunya. Saya memang frontal, tapi ingat-ingat apa yang pernah saya katakan jangan digeneralisasikan. Saya yakin gak semua mahasiswa yang demo sebrutal di Ibukota kemarin. Di kota saya juga ada demo, tapi adem ayem aja kok.

       Saya bukan anti-demonstasi. Saya tidak terlalu pro-pemerintah. Saya juga tidak bermaksud melukai hati masyarakat. Di sini saya hanya bersikap netral. Yaitu meluruskan apa yang berlebihan, dan menambahi apa yang kurang. Saat ini saya melihat Pemerintah begitu ditekan habis-habisan. Saya cuma berusaha menempatkan diri saya kepada posisi Pak SBY sendiri, pastilah saya akan sangat prihatin dengan keadaan bangsa ini. Begitu sulitnya mengatur bangsa sebesar ini. *bagi yang nonton pidato SBY barusan pasti paham lah*

       Untung saja, entah memang kita beruntung atau sudah skenario politik, sidang paripurna DPR semalam (30/3) tidak jadi menaikkan harga BBM per 1 April. Jangan seneng dulu. Pemerintah bukan tidak jadi menaikkan, tapi menunda dan menunggu. Tapi kemungkinan apapun yang terjadi, saya melihatnya sama-sama mengejutkan. Jika Pemerintah benar-benar ambil keputusan menaikkan harga BBM, sungguh Indonesia adalah negara yang berani. Berani melawan kehendak rakyat. Namun nyatanya Pemerintah menunda kenaikkan harga BBM, ini juga mengejutkan. April Mop!



http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html